(24/3/16) Badan Eksekutif Pertanian (BEM) Fakutas
Pertanian Universitas Muria Kudus bekerjasama dengan Muria Research Center
(MRC) Indonesia mengadakan Perigatan Hari Air melalui Forum Diskusi di
Auditorium Universitas Muria Kudus. Diskusi tersebut dihadiri oleh tamu
undangan dan juga khalayak umum
“Dengan adanya Forum Diskusi untuk memperingati hari Air tersebut, diharapkan kita dapat
mengelola air secara bijak untuk masa depan”, Ujar Ir Hadi Supriyo, MS selaku
dosen pertanian dalam sambutannya. Hal tersebut juga senada diucapkan oleh Arif
Hidayat selaku Panitia Peringatan Hari Air ini
Diskusi tersebut menghadirkan 3 pembicara yaitu Ir.Zed Nahdi
MSc (Dosen Fakultas Pertanian UMK),
Bapak Sungkono (Praktisi tradisional di desa Rahtawu) dan M Widjanarko (
Direktur MRC Indonesia)
Diskusi di moderatori oleh Imam Khanafi, Diskusi diawali
oleh Ir. Zed Nahdi, MSc yang memaparkan tentang Pola Edar di Permukaan Air dan Atmosfer, Beliau menjelaskan bahwa
secara totalitas air mempunyai volume yang tetap, namun karena keserakahan umat
manusia pola edar air menjadi tidak stabil, Beliau juga memaparkan tentang
siklus Hidrologi, Daerah Aliran Sungai dan juga Neraca air wilayah
Seusai pembicara pertama, Diskusi dilanjutkan kembali
dengan pembicara kedua yaitu Bapak Sungkono selaku Praktisi tradisional yang juga merupakan sekretaris desa Rahtawu,
Beliau mengutarakan bahwa saat ini di Rahtawu yang sangat dibutuhkan adalah
jenis tanaman keras seperti tanaman kopi, Durian, Sengon ataupun alpukat.
“Akar-akar tanaman keras tersebut bia mencengeram tanah tersebut sehingga tanah
tak mudah mengalami erosi”, Ujar bapak sungkono . Pohon-pohon yang ditanam tak
hanya sekadar dimanfaatkan hasilnya, namun juga untuk menjaga kelestarian alam
Seusai bapak Sungkono, Diskusi dilanjutkan dengan
pembicara terakhir yaitu Bapak Mochammad Widjanarko selaku Direktur Muria
Research Indonesia dan juga merupakan Dosen Fakultas Psikologi UMK, kali ini
beliau memaparkan tetang Riset Perilaku Manusia mengenai Sumber Daya Air oleh
MRC Indonesia. Beliau mengutarakan bahwa Kawasan Pegunungan Muria dengan pucak 29 (baca: songolikur) di ketinggian
1602 M dpl secara administratif terletak di Jawa Tengah, menaungi tiga
kabupaten yaitu: Kudus, Jepara, dan Pati. Namun Hutan Muria, menghadapi berbagai permasalahan
lingkungan. Secara biofisik kawasan ini mempunyai persoalan berupa kerusakan
dan perambahan hutan lindung serta kerusakan lahan pertanian penduduk akibat
praktek pengolahan lahan yang tidak ramah lingkungan.
Problem kerusakan sumber
daya lingkungan seperti perdagangan kayu,
perdagangan pasir dan batu, dan perdagangan air serta peningkatan intensitas dan
kualitas bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan dalam dua dekade ini
menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Jepara, Pati dan Kudus dan sebagian
Demak.
Padahal pegunungan Muria mempunyai
fungsi utama sebagai penyangga kehidupan flora fauna dan penyedia air bersih
untuk daerah sekitarnya.
Pada Intinya Kita harus menjaga
air agar tetap berkualitas dan juga jangan mengeksploitasi air secara
berlebihan.
Peringatan Hari Air ini di
meriahkan oleh Teater Tiga Koma dan Juga Teater Aura, Pameran Foto juga turut
menambah apik Peringatan Hari air tahun ini - (Ikhyari
Fatati Noryana)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar