Sosial Contact

Sabtu, 26 Maret 2016

Tak Ada Air, Tak Ada Kehidupan


(24/3/16) Badan Eksekutif Pertanian (BEM) Fakutas Pertanian Universitas Muria Kudus bekerjasama dengan Muria Research Center (MRC) Indonesia mengadakan Perigatan Hari Air melalui Forum Diskusi di Auditorium Universitas Muria Kudus. Diskusi tersebut dihadiri oleh tamu undangan dan juga khalayak umum
“Dengan adanya Forum Diskusi untuk memperingati  hari Air tersebut, diharapkan kita dapat mengelola air secara bijak untuk masa depan”, Ujar Ir Hadi Supriyo, MS selaku dosen pertanian dalam sambutannya. Hal tersebut juga senada diucapkan oleh Arif Hidayat selaku Panitia Peringatan Hari Air ini
Diskusi tersebut menghadirkan 3 pembicara yaitu Ir.Zed Nahdi MSc (Dosen Fakultas Pertanian UMK),  Bapak Sungkono (Praktisi tradisional di desa Rahtawu) dan M Widjanarko ( Direktur MRC Indonesia)
Diskusi di moderatori oleh Imam Khanafi, Diskusi diawali oleh Ir. Zed Nahdi, MSc yang memaparkan tentang Pola Edar di Permukaan Air dan Atmosfer, Beliau menjelaskan bahwa secara totalitas air mempunyai volume yang tetap, namun karena keserakahan umat manusia pola edar air menjadi tidak stabil, Beliau juga memaparkan tentang siklus Hidrologi, Daerah Aliran Sungai dan juga Neraca air wilayah
Seusai pembicara pertama, Diskusi dilanjutkan kembali dengan pembicara kedua yaitu Bapak Sungkono selaku Praktisi tradisional  yang juga merupakan sekretaris desa Rahtawu, Beliau mengutarakan bahwa saat ini di Rahtawu yang sangat dibutuhkan adalah jenis tanaman keras seperti tanaman kopi, Durian, Sengon ataupun alpukat. “Akar-akar tanaman keras tersebut bia mencengeram tanah tersebut sehingga tanah tak mudah mengalami erosi”, Ujar bapak sungkono . Pohon-pohon yang ditanam tak hanya sekadar dimanfaatkan hasilnya, namun juga untuk menjaga kelestarian alam
Seusai bapak Sungkono, Diskusi dilanjutkan dengan pembicara terakhir yaitu Bapak Mochammad Widjanarko selaku Direktur Muria Research Indonesia dan juga merupakan Dosen Fakultas Psikologi UMK, kali ini beliau memaparkan tetang Riset Perilaku Manusia mengenai Sumber Daya Air oleh MRC Indonesia. Beliau mengutarakan bahwa Kawasan Pegunungan Muria dengan pucak 29 (baca: songolikur) di ketinggian 1602 M dpl secara administratif terletak di Jawa Tengah, menaungi tiga kabupaten yaitu: Kudus, Jepara, dan Pati. Namun Hutan Muria, menghadapi berbagai permasalahan lingkungan. Secara biofisik kawasan ini mempunyai persoalan berupa kerusakan dan perambahan hutan lindung serta kerusakan lahan pertanian penduduk akibat praktek pengolahan lahan yang tidak ramah lingkungan.
Problem kerusakan sumber daya lingkungan  seperti perdagangan kayu, perdagangan pasir dan batu, dan perdagangan air serta peningkatan intensitas dan kualitas bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan dalam dua dekade ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat di Jepara, Pati dan Kudus dan sebagian Demak.
Padahal pegunungan Muria mempunyai fungsi utama sebagai penyangga kehidupan flora fauna dan penyedia air bersih untuk daerah sekitarnya.
Pada Intinya Kita harus menjaga air agar tetap berkualitas dan juga jangan mengeksploitasi air secara berlebihan.
Peringatan Hari Air ini di meriahkan oleh Teater Tiga Koma dan Juga Teater Aura, Pameran Foto juga turut menambah apik Peringatan Hari air tahun ini - (Ikhyari Fatati Noryana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar